highlight
5-hal-yang-anda-lewatkan-di-pekan-ke-13-premier-league

5 hal yang Anda lewatkan di pekan ke-13 Premier League

United disiuli suporter mereka sendiri di Old Trafford

 

Terpuruk di posisi tujuh, bermain membosankan tanpa inisiatif dan ditahan imbang Crystal Palace tanpa gol di Theater of Dreams membuat suporter Setan Merah menyiuli tim mereka sendiri.

Penampilan Manchester United tadi malam  adalah tipikal Jose Mourinho – jika tidak bisa meraih tiga angka maka ia akan memastikan satu poin masuk dalam kantongnya dengan bermain aman.

Nyaris tak ada inisiatif yang dibuat skuat United, peluang terbaik mereka hanya datang dari Lingard yang menyontek umpan silang mendatar Ashley Young. Selain dari itu United hanya mampu mengancam dari set-piece. Permainan United tadi malam tidak lebih baik dari Stoke City di era Tony Pullis – dan itulah kenapa suporter mereka menyiuli tim mereka sendiri.

 

Chelsea akhirnya kalah, City dan Liverpool masih kokoh

Spurs memberikan masterclass untuk menghentikan Sarri-ball kepada seluruh kontestan Premier League.

Pochettino melepas bola, memasang kecepatan pada Ali dan Son untuk melancarkan serangan balik cepat. Moussa Sissoko diplot sebagai double pivot bersama Eric Dier untuk menghentikan aliran bola Jorginho. Hasilnya? Spurs sudah unggul dua gol di babak pertama.

Taktik yang diterpkan oleh Poch juga menyibak ‘cacat’ dalam permainan Jorginho dan David Luiz. Bek asal Brasil itu menjadi penyebab Chelsea kebobolan gol kedua dan ketiga. Luiz malah menghindari bola yang ditembak oleh Harry Kane sehingga bola bersarang di gawang Kepa tanpa hambatan, pada gol ketiga yang dibuat Son – ia dengan mudah ditipu oleh pemain Korea Selatan tersebut sehingga gol solo run pun tercipta pada menit ke-54. Pada laga ini, kita semua akan paham alasan Conte tak pernah memainkan Luiz pada musim lalu. Sedangkan Jorginho – tak punya sisi defensif yang mumpuni sebagai gelandang jangkar. Ia bahkan tidak menghadirkan tekanan fisik kepada Son saat menerima bola di sayap kanan sebelum membuat solo run sempurna yang memporak-porandakan pertahanan Chelsea.

Hasil ini membuat Spurs menyalip Chelsea di posisi tiga, dan untuk saat ini London masih berwarna putih.

 

Fans protes ‘golden handshake’ £5 juta paun untuk Scudamore

Poster bertuliskan GR££D dengan logo Premier League berkibar di laga Watford kontra Liverpool. Hal ini sebagai bentuk sindiran fans terhadap ‘hadiah perpisahan’ berupa uang lima juta paun untuk Richard Scudamore yang berhenti pekan lalu. Pria berusia 59 tahun tersebut adalah CEO Premier League, ialah yang mentransformasi Liga Inggris dari bukan yang terbaik di dunia menjadi seperti sekarang.

Premier League saat ini menjadi liga dengan nilai komersial terbesar di seantero planet dengan rekor penjualan hak siar sebesar 5 miliar paun.

Sejatinya Scudamore menerima gaji £900 ribu, jumlah yang fantastis untuk kategori direktur, namun seluruh klub Premier League sepakat menghadiahinya uang lima juta paun di hari perpisahannya.

Jumlah yang pantas untuk jasanya? Jelas fans di Vicarage Road tidak berpendapat sama.

 

Selebrasi Mo Salah sindir Ramos?

Kita semua tahu betapa Salah membenci Ramos setelah tragedi di final Liga Champions tahun lalu. Dua rekan setim Salah yaitu Van Dijk dan Lovren – juga menabuh genderang perang kepada kapten Real Madrid tersebut.

Beberapa hari lalu temuan Football Leaks mengungkap skandal doping Sergio Ramos. Gol yang dicetak oleh Mo Salah ke gawang Watford ia gunakan sebagai kesempatan untuk menyindir bek tengah Spanyol tersebut.

Pemain berkewarganegaraan Mesir tersebut melakukan selebrasi kupu-kupu, gaya selebrasi yang biasa dilakukan oleh Ramos saat mencetak gol.

Gestur tersebut dipercaya sebagai sindiran keras dari Salah terkait skandal doping rivalnya tersebut.

 

Leroy Sane naikkan persneling

Pemain muda terbaik liga pada musim lalu, namun kesulitan tampil sebagai pemain inti di setiap minggu pada musim ini. Leroy Sane telah mengalami penurunan drastis sejak awal musim, ia dicoret dari skuat Piala Dunia Jerman, dan berseteru dengan Pep karena masalah sikap.

Namun penampilan Sane saat menghadapi the Hammers seakan menjelaskan bahwa dirinya sudah kembali ke penampilan terbaiknya. Dua gol dan satu assist ia buat ke gawang the Hammers dan yang paling kentara adalah kecepatan serta penetrasinya di sayap kiri telah kembali.

Penampilan Sane ini akan semakin membuat Mahrez dalam posisi sulit mengingat Sterling juga tengah mencapai konsistensi yang mengagumkan pada musim ini.

 

Ditulis oleh: @HanifThamrin